Geografi Media Info

Media informasi pembelajaran geografi dan pendidikan

Geografi Media Info

Media informasi pembelajaran geografi dan pendidikan

Geografi Media Info

Media informasi pembelajaran geografi dan pendidikan

Geografi Media Info

Media informasi pembelajaran geografi dan pendidikan

Geografi Media Info

Media informasi pembelajaran geografi dan pendidikan

Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas X semaster 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas X semaster 2. Tampilkan semua postingan

PEDOSFER / LAPISAN TANAH

 

Pembentukan Tanah dan Persebarannya

A. Pengertian Tanah Dan Pembentukan Tanah

Tanah adalah bagian dari lahan yang tersusun dari bahan-bahan anorganik dan organic. Sedangkan lahan adalah Permukaan daratan dengan kekayaan benda-benda padat, cair dan gas. Komponen tanah terdiri atas udara, mineral, bahan organic dan air.

Faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah antara lain bahan induk, organisme, topografi, iklim dan waktu. Profil tanah meliputi horizon O (lapisan bahan organik, horizon A (tanah mengalami pencucian), horizon B (tanah mengalami penimbunan), horizon C (lapisan bahan Induk Tanah), horizon R (lapisan batuan induk)

B. Jenis Tanah Dan Manfaat
1) Jenis tanah

a) Tanah aluvial = tanah yang terbentuk dari material halus hasil pengendapan aliran sungai. Persebaran tanah aluvial di Indonesia terdapat di pantai Timur Sumatra, pantai Utara Jawa, sepanjang Sungai Barito, sepanjang Sungai Mahakam, sepanjang Sungai Musi dan sepanjang Bengawan Solo.

b) Tanah andosol = tanah yang berasal dari abu gunung api. Persebarannya terdapat di: Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera dan Minahasa.

c) Tanah regosol = tanah berbutir kasar dan berasal dari material gunung api. Terdapat di Bengkulu, pantai Barat Sumatra, Jawa, Bali dan NTB.

d) Tanah kapur = tanah yang terjadi karena hasil pelapukan batuan kapur dan sifatnya tidak subur. Terdapat di Jawa Tengah, Aceh, dan Sulawesi Selatan.

e) Tanah litosol = tanah yang terbentuk dari batuan keras yang belum mengalami pelapukan secara sempurna.

f) Tanah argosol (tanah gambut) = tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami pembusukan. Jenis tanah ini berwarna hitam sampai coklat. Terdapat di Kalimantan, Sumatra dan Papua.

g) Tanah grumusol = tanah yang terbentuk dari material halus berlempung. Terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara.

h) Tanah latosol = tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Jens tanah ini sering disebut tanah merah yang banyak dijumpai di daerah pegunungan. Tanahnya berwarna merah sampai kuning. Terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Kalimantan Tengah, Sumatra Barat.

2) Manfaat Tanah

a) Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran

b) Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)

c) Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)

d) Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

C. Lahan Potensial Dan Lahan Kritis

Perbedaan lahan potensial dengan lahan kritis. Lahan potensial adalah lahan yang secara fisis kimiawi dan ekonomi cukup menguntungkan, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Sedangkan lahan kritis adalah lahan yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai media pengatur tata air dan unsur pertanian yang baik. Faktor penyebab terjadinya lahan kritis antara lain meluasnya lahan kritis atau degradasi lahan di permukaan bumi yaitu akibat proses alam dan perilaku manusia dalam memanfaatkan lingkungan.

Faktor penyebab lahan kritis sebagai akibat proses alam yaitu;

(1) erosi,

(2) tanah longsor,

(3) pencucian tanah.

Faktor penyebab lahan kritis sebagai akibat perilaku manusia misalnya;

(1) perusakan hutan,

(2) pertanian sistem ladang berpindah,

(3) kegiatan pertambangan terbuka,

(4) sistem pertanian di pegunungan yang tidak menggunakan terassering (sengkedan).

Ciri-ciri lahan kritis;

(1) penutup vegetasinya kurang dari 25%,

(2) tingkat kemiringan lebih dari 15%,

(3) terjadi gejala aerasi lembar (sheet erosion),

(4) terjadi gejala erosi parit (gully erosion).

 

Dampak degradasi lahan terhadap kehidupan ;

(1) akibat proses erosi yang merupakan penyebab lahan tanah menjadi tidak subur, karena lapisan top soil hilang,

(2) produktivitas pertanian menurun sehingga pendapatan petani berkurang,

(3) terjadi banjir,

(4) menurunnya kemampuan lahan untuk menyerap air tanah, dan

(5) terganggunya ekosistem makhluk hidup.


D. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Lahan Kritis

1) Reboisasi atau penghijauan adalah penghutanan kembali tanah-tanah hutan yang gundul dengan ditanami tanaman keras. Tujuan reboisasi yaitu memulihkan kembali daya serap tanah terhadap air, sehingga proses aerosi dapat diperlambat.

2) Penghijauan adalah penanaman kembali tanah yang gundul. Jenis tanaman yang digunakan dalam progam penghijauan misalnya: turi, cengkeh, jambu monyet, petai, kayu manis, nangka , kluwih, karet dan durian.

3) Sistem penanaman searah garis kontur (countur ploughing) adalah penanaman tanaman yang searah atau sejajar dengan garis kontur. Menurut R.L. Cook (1962) menyatakan bahwa penanaman secara kontur sangat sesuai bagi tanah-tanah yang memiliki kemiringan 3–8% akan tetapi kurang efektif pada tanah yang memiliki kemiringan kurang dari 3% atau lebih dari 8% sampai 25%.

4) Sistem terassering atau sengkedan. Cara ini digunakan untuk mengurangi laju air yang mengalir di permukaan bumi.

5) Lahan yang kemiringannya lebih dari 450 harus dijadikan areal hutan lindung.

6) Pembuatan lorak-lorak mati berupa lubang pada akhir guludan tanah agar air mengalir tertampung pada lubang itu dan meresap ke dalam tanah, sehingga proses erosi dapat dihindari

7) Pergiliran tanaman (croprotation) adalah suatu sistem bercocok tanam pada sebidang tanah yang terdiri dari beberapa macam tanaman yang ditanam secara berturut-turut pada waktu tertentu.

8) Pemulsaan (mulching) adalah menutupi permukaan tanah dengan sisasisa tanaman. Sisa-sisa tanaman yang biasa digunakan untuk pemulsaan yaitu jerami. Menurut Dj. Greenland dan R. Lal dalam Soil Conservation and Managment in the Humid Tropic, (1977) dengan dilakukan pemulsaan konservasi air dalam tanah dapat diperbaiki, jumlah poripori yang dapat menginfiltrasi air meningkat dan evaporasi yang berlebihan dapat dikurangi.

E. Klasifikasi Kemampuan Lahan

Kelas I

1) Topografi hampir datar,

2) Tingkat erosi kecil,

3) Mempunyai kedalaman efektif (solum) yang dalam,

4) Drainase baik,

5) Mudah diolah,

6) Kapasitas menahan air baik,

7) Tidak terancam banjir.

Kelas II

1) Lereng landai,

2) Struktur tanah kurang baik,

3) Ancaman erosi lebih besar,

4) Terancam banjir.

Kelas III

1) Lereng miring dan bergelombang,

2) Drainase kurang baik,

3) Peka terhadap erosi,

4) Kapasitas menahan air rendah.

Kelas IV

1) Lereng miring/berbukit,

2) Kapasitas menahan air rendah,

3) Peka terhadap erosi,

4) Sering banjir.

5) Solum dangkal

Kelas V 

1) Topografi relatif datar 

2) Tergenang air, 

3) Biasanya tanah berbatu, 

4) Tidak sesuai untuk lahan pertanian.

Kelas VI 

1) Lereng agak curam, 

2) Ancaman erosi berat, 

3) Tanah berbatu-batu.

Kelas VII 

1) Terletak pada lereng curam, 

2) Erosi sangat kuat, 

3) Solum dangkal, 

4) Untuk padang rumput/hutan produksi terbatas.

Kelas VIII 

1) Lereng sangat curam, 

2) Kepasitas menahan air rendah, 

3) Berbatu-batu, 

4) Harus dihutankan.

 

Terima kasih telah membaca semoga bermanfaat------------------------

 

 

Bahan Bacaan

VULKANISME

A. Pendahuluan

Peristiwa yang berhubungan dengan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan bumi disebut dengan aktivitas vulkanisme. Atau segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfera ke lapisan yang lebih atas atau keluar permukaan bumi (dalam arti luas).

Apa yang dimaksud magma? Campuran batuan cair pijar, liat dan sangat panas yang terdapat pada lapisan kerak bumi disebut dengan magma. Setelah keluar ke permukaan bumi disebut dengan Lava

1.      Intrusi dan ekstrusi magma

a.      Intrusi Magma

Aktivitas magma di dalam lapisan litosfera, memotong atau menyisip litosfer dan tidak mencapai permukaan bumi disebut instrusi magma. intrusi magma disebut juga plutonisme.

Bentuk-bentuk intrusi magma

1)            batholit, yaitu batuan beku yang terbentuk dari dapur magma,             terjadi karena penurunan suhu yang lambat

2)            lakolit, yaitu magma yang menyusup diantara lapisan batuan yang     menyebabkan lapisan batuan diatasnya terangkat sehingga                 cembung, sedangkan alasnya rata.

                                3)            Sill, adalah lapisan magma tipis yang menyusup diantara lapisan                                     batuan diatas, datar dibagian atasanya.

4)            Gang, adalah batuan dari intrusi magma yang memotong lapisan          batuan yang berbentuk pipih atau lempeng.

5)                                                                                                                                                Apofisa, merupakan cabang dari iru Diatrema adalah batuan yang                                 mengisi pipa letusan.

b.     Ekstrusi magma,

Kegiatan magma yang mencapai permukaan bumi disebut ekstrusi magma. Ekstrusi magma merupakan kelanjutan dari intrusi magma (plutonisme). Bahan yang dikeluarkan pada saat terjadi proses ekstrusi magma terutama ketika terjadi letusan gunung api, adalah dalam bentuk material padat yang disebut eflata/piroklastik dan dalam wujud cair berupa lava dan lahar, serta dalam wujud gas seperti belerang, nitrogen, gas asam arang dan gas uap air.

Menurut bentuknya ekstrusi magma dibedakan menjadi tiga yaitu :

1)            Ekstrusi sentral, yaitu magma keluar melalui sebuah saluran magma (pipa kawah) dan membentuk gunung-gunung dan letaknya tersendiri. Ekstrusi melahirkan tipe letusan gunung api. Contohnya Gunung Krakatau dan Gunung Veruvius.

2)            Ekstrusi linier, yaitu magma keluar melalui melalui retakan atau celahan yang memanjang sehingga mengakibatkan terbentuknya deretan gunung api yang kecil-kecil disepanjang retakan itu. Contohnya Gunung Api Laki di Pulau Eslandia.(Api Spleet) yang memanjang 30 km.

3)            Ekstrusi areal yaitu magma keluar melalui lubang yang besar, karena magma terletak sangat dekat dengan permukaan bumi. sehingga magma menghacurkan dapur magma yang menyebabkan magma meleleh keluar kepermukaan bumi.

Di bawah lapisan kerak bumi (litosfer) terdapat lapisan mantel (selubung) yang berisikan batuan cair - liat yang sangat panas. Adanya tekanan yang sangat tinggi dari lapisan mantel ini menyebabkan batuan cair – liat tersebut bergerak ke atas melewati retakan-retakan atau patahan pada lapisan kerak bumi. Batuan cair–liat yang panas ini setelah mencapai lapisan kerak bumi disebut dengan magma.

Pada saat magma menembus lapisan kulit bumi, sebagian kulit bumi akan mencair dan meleleh sehingga terbentuk rongga besar dan terisi oleh magma. Rongga besar yang terisi oleh magma ini disebut dengan dapur magma. Jika terdapat retakan atau patahan di atas dapur magma maka magma akan menerobos ke atas dan dapat mencapai permukaan bumi. Magma yang keluar ke permukaan bumi disebut dengan lava. Lava pijar yang mengalir di permukaan bumi suhunya masih berkisar 25o–400oC. Setelah beberapa waktu suhu lava akan semakin dingin dan akhirnya membentuk batuan beku.

Proses pembekuan magma tidak hanya terjadi di permukaan bumi, tetapi juga terjadi di dalam bumi dan di sela-sela kulit bumi. Oleh karena itu batuan beku dapat dibedakan menjadi :

a.  Batuan beku yang berasal dari magma yang pembekuannya terjadi di permukaan bumi disebut dengan batuan beku luar. Biasanya proses pendinginan lava berlangsung dengan cepat sehingga pembekuan batuan terjadi secara merata. Adanya pembekuan lava secara cepat kadang-kadang menyebabkan gas-gas yang ada dalam lava belum sempat keluar sehingga terbentuk batu apung (pumise). Batu apung ini jika di taruh di air akan mengapung.

b.  Batuan beku yang terbentuk sebagai akibat pembekuan magma yang melewati retakan di sela-sela kulit bumi disebut dengan batuan beku gang (korok). Jika penyusupan magma tersebut relatif tegak lurus terhadap lapisan kulit bumi, disebut dengan dike. Jika penyusupan magma ke atas dan kemudian membelok sejajar dengan lapisan kulit bumi, disebut dengan sill.

c.  Batuan beku yang proses pembekuannya berada jauh di bawah permukaan bumi disebut dengan batuan beku dalam. Proses pembekuan yang terjadi pada batuan ini berlangsung lambat

sehingga terjadi pengkristalan. Inilah yang menyebabkan salah satu ciri dari batuan beku dalam berbentuk kristal-kristal besar (holo kristalin).

2.      Bentuk Gunung Api

Di Indonesia banyak terdapat gunung api. Tentunya kalian semua pernah melihat gunung, bahkan di antara kalian mungkin ada yang rumahnya dekat dengan gunung. Cobalah perhatikan bagaimana bentuk gunung yang dekat dengan tempat tinggalmu. Bentuk gunung antara daerah satu dengan yang lain tidaklah sama, tetapi di Indonesia kebanyakan gunung api mempunyai bentuk yang hampir sama. Secara umum bentuk-bentuk gunung api di dunia ini dapat dibedakan menjadi.

a.      Gunung api yang bentuknya seperti kerucut, disebut dengan gunung api strato. Pada saat terjadi erupsi, material yang dikeluarkan berselang seling antara lava cair encer dan lava cair kental. Gunung semacam ini semakin lama akan bertambah tinggi. Pada umumnya gunung api di Indonesia mempunyai bentuk strato.

b.     Gunung api yang letusannya sangat kuat, dan batuan yang ada di sekitar kepundan hancur serta terlempar ke luar, sehingga kepundan berbentuk corong, disebut dengan gunung api maar. Contoh Gunung Rinjani di Nusa Tenggara dan Gunung Lamongan di Jawa Timur.

c.      Gunung api yang bentuknya seperti perisai atau tameng disebut dengan gunung api perisai. Pada saat terjadi erupsi material yang dikeluarkan berbentuk cair. Erupsi seperti ini disebut dengan erupsi efusif. Contoh: gunung Manoa Loa di Hawai. Tipe gunung api seperti ini tidak terdapat di Indonesia.

 

      Gambar. Bentuk Gunung Api di Dunia: Tameng (A), Maar (B), dan Strato (C)

(Sumber. www.beji,net dan www.rat.gsfe-nasa.gov.net

 

Berdasarkan tipe letusannya gunung api dapat dibedakan menjadi:

a.              Magma yang dikeluarkan sangat cair, mempunyai tekanan gas yang rendah dan berasal dari dapur magma yang dangkal. Tipe letusan gunung seperti ini sebut dengan tipe Hawai. Contoh: Gunung Kileana dan Mama Loa di Hawai.

b.             Erupsi yang terjadi tidak terlalu eksplosif dan berlangsung lama. Lava yang keluar cair dengan tekanan gas sedang dan dari dapur magma yang dalam. Tipe letusan seperti ini disebut dengan tipe Stromboli. Contoh: Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Visuvius di Italia.

c.               Pada saat erupsi, lava yang keluar kental dengan tekanan gas sedang sampai tinggi. Magma berasal dari dapur magma yang dangkal sampai agak dalam. Tipe letusan seperti ini disebut dengan tipe vulkano. Contoh : Gunung Etna di Italia.

d.              Erupsi dengan ledakan yang sangat dahsyat disertai dengan semburan material ke atas karena tekanan gas yang sangat tinggi,letusan seperti ini disebut dengan tipe perret. Contoh: Gunung Krakatau di Selat Sunda.

e.              Lava yang keluar bersifat kental dan mengalir secara perlahan karena adanya tekanan gas yang rendah, sehingga membentuk sumbat kawah. Adanya akumulasi tekanan gas dapat menyebabkan sumbat kawah tersebut pecah dan disertai dengan munculnya awan panas. Tipe letusan seperti ini disebut dengan tipe Merapi. Contoh: Gunung Merapi di Jawa Tengah.

f.                 Erupsi yang disertai dengan lava yang kental dan tekanan gas sedang, berasal dari dapur magma yang dangkal disebut dengan tipe letusan St. Vincent. Contoh Gunung Kelud di Jawa Timur dan Gunung St Vincent di Kepulauan Antiles.

g.             Erupsi yang disertai dengan lava yang kental, tekanan gas tinggi dan dari dapur magma yang dalam, disebut dengan tipe letusan Pelee.



3.      Penyebaran Tipe Gunung Api di Indonesia

Sebagian besar gunung api di Indonesia mempunyai bentuk strato. Hal ini disebabkan oleh material yang dikeluarkan berselang seling antara lava cair-encer dan lava cair-kental. Namun demikian ada beberapa gunung di Indonesia yang mempunyai bentuk maar, seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara serta Gunung Lamongan dan Gunung Bromo di Jawa Timur.

B. Peristiwa terkait aktivitas Vulkanisme dalam kehidupan sehari-hari

a.      Gejala Post Vulkanis

Jika kalian pergi ke daerah wisata gunung maka kalian sering menemui kejadian-kejadian di lapangan seperti:

1)            Munculnya gas asam arang (CO2 dan CO) yang sering disebut mofet.

2)            Sumber gas belerang, yang disebut dengan solfatara.

3)            Sumber gas uap air, yang disebut dengan fumarol.

4)            Sumber air mineral yang hangat.

5)            Sumber air panas.

6)            Pancaran air panas yang periodik dan disebut dengan geyser.

Tanda-tanda seperti tersebut di atas merupakan tanda-tanda bahwa gunung berapi sudah kurang aktif lagi, yang sering disebut dengan gejala Post Vulkanis.

b.     Keuntungan adanya gunung api

1)            Abu    vulkanis    yang    dikeluarkan    gunung   berapi   dapat             menyuburkan tanah pertanian

2)            Pasir, kerikil, batu yang dikeluarkan pada saat erupsi dapat                   digunakan untuk bahan bangunan.

                                3)            Banyak bahan tambang yang dikeluarkan oleh gunung api. 

                            Contoh :mineral logam  Gunung api yang tinggi menyebabkan                                         terjadinya hujan orografis.

5)            Daerah gunung api biasanya dimanfaatkan untuk daerah hutan dan     daerah pariwisata

6)            Banyak sumber mata air yang ditemukan di lereng gunung.

f.       Kerugian adanya gunung api

1)             Erupsi gunung berapi yang berupa lava pijar dan gas yang panas saat bergerak turun dari puncak gunung sering menghanguskan apa saja yang dilaluinya baik tumbuh-tumbuhan, hewan, maupun manusia

2)             Gunung api yang meletus menghamburkan material ke daerah sekitarnya sehingga menimbulkan bencana bagi penduduk.

3)             Gunung api yang tinggi dan berderet dapat membentuk daerah bayangan hujan (daerah yang curah hujannya sedikit). Contoh lembah Palu di Sulawesi Tengah.

                                            4)             Jika gunung berapi berada di laut, saat meletus dapat                                             menyebabkan tsunami. Contoh Gunung Krakatau di Selat Sunda yang                         meletus tahun 1883

5)                                                                                                                           5)         Abu vulkanis saat meletus dapat mengganggu penerbangan.